Sejarah Masjid Agung Manonjaya
Masjid Agung Manonjaya adalah masjid yang terletak di Desa Manonjaya, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Bagian utara dan selatan masjid berbatasan dengan jalan raya. Sedangkan bagian timur berbatasan dengan Sekolah Dasar dan alun-alun.
Namun, disisi lain belum banyak dikenal oleh masyarakat adalah bahwa Kabupaten Tasikmalaya memiliki beberapa ikon wisata lain yakni wisata religi. Salah satu ikon wisata religi yang cukup berpotensial adalah Masjid Agung Manonjaya. Wisata religi sendiri dapat diartikan sebagai sektor wisata yang bertujuan untuk memenuhi segala kebutuhan manusia dari sudut pandang spiritualnya dan sebagai sarana untuk memperkuat keimanan dan ketakwaan serta berkunjung ke tempat, bangunan, makam yang memiliki nilai religius dan bersejarah .
Masjid Agung Manonjaya-Tasikmalaya Merupakan Masjid kuno bersejarah peninggalan Nagara Sukapura (1632-1901 M), masuk dalam ranah Benda Cagar Budaya (BCB) yang dilindungi oleh Priangan Timur-Jawa Barat yang bersentuhan dengan para bupati ketika mendakwahkan Islam kepada rakyatnya . Masjid Agung Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya memiliki sejarah yang panjang.
Diketahui bahwa Syekh Abdul Muhyi berperan dalam meletakkan dasar-dasar keislaman di wilayah ini. Sang ulama di Pamijahan ini adalah gurunya para bupati dan keluarganya, ia juga yang meletakkan batu pertama pembangunan masjid ini ketika masih berbentuk mushola. Perubahan dari mushola ke masjid digagas oleh Bupati Sukapura ke-VIII, Kanjeng Dalem Wiradadaha (1814 – 1837 M). Pembangunan kembali Masjid Agung Manonjaya dilakukan pada tahun 2010 M, setelah gempa tahun 2009 meluluhlantakkan masjid ini.

(Atap Bangunan dan Tampilan Belakang Masjid)

(Jejak Resmi Pembangunan)

(Jejak Resmi Renovasi Masjid)
Masjid Agung Manonjaya merupakan masjid yang bersejarah. Pada Tahun 1832, Arjawinangun (Manonjaya) menjadi ibukota Kabupaten Sukapura. Disebelah selatan Masjid Agung Manonjaya dan Alun Alun Manonjaya ada pendopo bupati. Di sebelah utara alun alun ada bekas penjara masa kolonial 1832. Bersamaan dengan itu Masjid Agung Manonjaya dibangun, ada 2 tahap: bangunan utama dan bangunan tambahan. Bangunan Utama didirikan tahun 1832 bersamaan dengan perpindahan ibukota kabupaten, selesai sekitar tahun 1834, diresmikan menjadi pusat pemerintahan Sukapura.

(Perluasan Area Seperti Area Parkir)

(Perluasan Area Selasar Bagian Belakang Masjid dan Ruang Sekretaris)
Selang kurang lebih 70 tahun menjadi pusat pemerintahan ibukota yang selanjutnya dipindahkan di Tasikmalaya, ada beberapa perkembangan dalam masjid, karena penduduk semakin banyak. Akhirnya pada tahun 1889 ada perkembangan dan perluasan masjid: selasar (teras) dan koridor, fungsinya untuk para khatib/ulama memberikan pemaparan ilmu agama, atau kajian pengajian islam.
Pada hari Rabu, 2 September 2009 masjid Agung Manonjaya ini hancur karena gempa yang berskala sebesar 7,8 richter. Sebanyak 60 tiang penyangga yang kerap disebut Dalem Sawidak tak mampu menahan kuatnya gempa. Setelah itu, dilakukan renovasi besar-besaran. Karena masjid ini mengandung nilai sejarah yang tinggi, bangunan ini direnovasi dengan mengusahakan untuk tidak merubah arsitektur sebelumnya agar tidak merubah nilai sejarah dan nilai nilai kuno. Masjid ini selesai dibangun kembali pada tahun 2010.

(Bagian Atap Masjid)
Dari segi arsitekturnya, Masjid Agung Manonjaya ini dikenal dengan nuansa Neoklasik, seperti kekhasan bangunan di Eropa. Secara umum, arsitektur Masjid ini memadukan desain Eropa dengan arsitektur tradisional Sunda dan Jawa, maka dari itu, sudah jarang ditemukan atap dan bentuk bangunan seperti Masjid Agung Manonjaya. Oleh karena itu, Masjid Agung Manonjaya dijadikan sebagai salah satu Cagar Budaya Kolonial dan Wisata Religi.
Nuansa tradisionalnya bisa dilihat dari bentuk elemen bangunan, seperti ruang sholat untuk wanita, serambi (pendopo) di sebelah timur, dan mustaka (memolo) yang konon merupakan peninggalan dari Syekh Abdul Muhyi, ulama asal Pamijahan, Tasikmalaya Selatan. Beberapa unsur bangunan yang sangat khas dan melambangkan percampuran unsur tradisional dengan Eropa klasik itu adalah atap tumpang tiga, serambi (pendopo), dan struktur saka guru yang terdapat di tengah-tengah ruang salat.
Bangunan Utama itu yang beratap tumpang bersusun 3. Ada berdasarkan beberapa cerita yang menyebutkan bahwa arsitektur Masjid Agung Manonjaya dibuat oleh pribumi yang dipekerjakan oleh orang Belanda.

(Tiang Bagian Luar Masjid)

(Tiang Bagian Dalam Masjid)
Ciri ciri yang memiliki gaya eropa yang melekat adalah tiang ganda yang berbentuk bulat dan segi delapan yang besar, dinding tebal (± 35 cm - 40 cm), dan pintu ganda tinggi yang bercorak dengan Tiang bagian dalam masjid yang berjumlah 10.
Untuk arsitektur Jawa bisa dilihat dari atapnya, pustaka yang paling atas terbuat dari tembaga yang tingginya 1.80 Meter (pada Gambar 1.F.), yang merupakan peninggalan Syekh Abdul Wahid.

(Atap Bagian Dalam Masjid)

(Dinding Bagian Dalam Masjid)
Sedangkan atap bagian dalam masjid dan dinding dalam masjid dilengkapi dengan kaligrafi ayat Al-Qur’an dan Asma’ul Husna.
Komentar (0)
Komentari Berita Ini
Baca Berita Lainnya
Menanam Budaya, Menuai Teknologi: Semarak Gelar Karya P5 SMA QSBS 2025
Mendidik Santri QSBS Agar ‘eM eM’
KEKUATAN BESI
Sebuah Renungan: Jadilah Seperti Lebah
“Bagaimana Seorang Manager Mampu Mengendalikan Situasi dan Menjalankan Program dengan Baik Melalui Empat Aspek Kepemimpinan”
YUK! SIMAK PROGRAM UNGGULAN RISET ALAM DAN RISET SOSIAL PERDANA SMA QSBS
SPIRIT AL-KAUTSAR 561 TERUS MENERUS BERBENAH MELALUI SINERGI-KOLABORASI-KOORDINASI-KERJASAMA
"PEMBELAJARAN TERINTEGRASI DAN HOLISTIK MELALUI MERDEKA BELAJAR, LITERASI, NUMERASI, KEGIATAN RISET DAN PENGEMBANGAN KARAKTER SISWA”
Mengukur Daya Hantar Listrik Suatu Larutan | QSBS
Belum ada komentar untuk berita ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!